Mengenal Lima Hikmah Zakat dalam Kitab Al-Fiqh Al-Manhajiy

Opini
Ahmad Dirgahayu Hidayat

Menciptakan budaya yang ramah fakir-miskin dan kaum duafa merupakan salah satu misi terbesar Islam. Karena itu, tentu mewujudkannya bukan hal mudah. Hal ini dapat dilihat perjuangan Rasulullah SAW saat memberantas perbudakan, mengangkat martabat perempuan, dan ringan tangan kepada setiap fakir-miskin yang ditemuinya. Semua ini, tiada lain kecuali untuk mengejawantahkan ajaran Islam yang rahmatan lil’alamin.

Pensyariatan zakat, termasuk satu dari sekian usaha Islam guna memanifestasikan tujuan luhurnya itu. Kini, para tokoh agama, kiai, tuan guru, dan yang lain, kerap kali dirisaukan oleh beberapa oknum masyarakat yang enggan berzakat. Sebenarnya, kerisauan semacam ini bukanlah hal baru. Bahkan, sudah ada sejak zaman Sayidina Umar ra.  Jadi, barangkali, yang penting disuarakan, tidak lagi seputar kewajiban zakat. Melainkan, hikmah dan faedah di balik kewajiban zakat tersebut.

Dalam kitab Al-Fiqh Al-Manhajiy ‘ala Madzhab al-Imam asy-Syafi’i (juz 2, hal. 12), buah karya tiga ulama berkaliber tinggi, Musthafa al-Khin, Musthafa al-Bugha dan Ali asy-Syarbajiy, menulis lima hikmah di balik hukum zakat. Di antaranya:

Pertama, melatih pemberi untuk menjadi dermawan. Rasulullah SAW sendiri senantiasa mencontohkan hal ini kepada umatnya. Dengan taat berzakat, seseorang mampu membuang sifat kikir dan lokek pada dirinya. Sifat yang amat buruk dan anti sosial itu. Di sisi lain, baginda Nabi menegaskan bahwa memberi, sedikit pun tak mengurangi harta benda yang dimiliki. Sebagaimana dalam Hadits riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

ما نقصت صدقة من مال وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزّا وما تواضع أحد لله ٱلا رفعه الله

“Sedekah tak akan pernah mengurangi harta benda, dan Allah pasti memuliakan sang hamba bila telah mengampuninya, begitu juga ketika sang hamba merendah di hadapan Allah, pasti derajatnya akan diangkat.” (HR. Muslim no. 2588).

Logikanya, bagaimana mungkin harta akan berkurang, sementara Allah SWT telah menjanjikan keselamatan dari petaka dan bencana (al-madharrāt) kepada si pemberi.

Kedua, mempererat ikatan persaudaraan dan kasih sayang. Hubungan emosional antara kaum hartawan dan fakir-miskin bisa terjalin erat melalui media zakat. Umat Islam secara umum, dengan status sosial yang berbeda-beda, bagaikan bangunan yang kokoh. Setiap personal bagai bahan bangunan yang saling menahan dan menyokong. Bahkan, bisa diilustrasikan sebagai satu tubuh. Bila perut-sebagai anggota tubuh-merasa lapar, maka anggota yang lain tentu tak akan nyaman. Sampai setinggi inilah hubungan persaudaraan dan kasih sayang yang seharusnya terjalin di antara setiap umat muslim.

Ketiga, menstabilisasi ekonomi umat. Filantropi zakat benar-benar menjadi solusi dari ketimpangan ekonomi umat yang parah. Bagaimana mungkin masyarakat secara kolektif turut tenteram-bahagia dengan latar belakang ekonomi dan nasib yang berbeda-beda. Hanya zakat lah yang menjadi solusi terbaik dalam menjaga kolektivitas umat Islam dari bahaya perpecahan sosial yang mengerikan.

Keempat, meminimalisir faktor-faktor dan angka pengangguran. Faktor terbesar dari muncul dan berkembangnya pengangguran adalah kefakiran. Di mana, si fakir tak mempunyai harta yang cukup, bahkan untuk dirinya sendiri. Demikian pula dengan daya usaha yang tidak cukup sebagai penunjang kebutuhannya. Kehadiran zakat, setidaknya mampu membuka peluang bagi sekalian masyarakat yang inovatif dan kreatif untuk membangun dan mengembangkan sebuah usaha. Mengingat, tidak sedikit orang-orang fakir yang menyimpan keahlian dan skil yang bagus. Hanya saja, keahlian tersebut dilumpuhkan oleh kondisi ekonomi mereka.

Kelima, sebagai media penyucian hati dari sifat iri dan dengki. Zakat merupakan media untuk menyucikan hati dari sifat-sifat tercela, seperti iri dan dengki. Zakat yang ditunaikan dengan motif kasih sayang, tolong-menolong dan solidaritas, akan mampu menghapus sifat hasud yang menjangkiti hati setiap muslim, baik kaya ataupun miskin. Mengingat, tak sedikit fakir-miskin yang dengki kepada kaum hartawan. Demikian halnya yang kaya, banyak juga yang memendam kebencian dan dendam terhadap saudaranya yang miskin. Untuk mengobatinya, para ulama menyarankan agar melestarikan budaya taat berzakat. Pendek kata, dengan berzakat, antara fakir-miskin dengan hartawan dapat menyambung tali persaudaraan kembali. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi sekalian pembaca yang budiman. Wallahu a’lam bisshawab.

*Santri Ma’had Aly PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo