INDIKATOR NEW NORMAL PARIWISATA NTB

Herman, M.Pd
*Herman, M.Pd

Beredarnya istilah New Normal di tengah Covid-19 menjadi pertanyaan besar masyarakat NTB pada umumnya. Istilah ini tiba-tiba muncul di tengah masyarakat yang belum mengerti dan memahami makna harfiahnya. Akibatnya, pemerintah mengubah istilah tersebut menjadi kenormalan baru, kebiasaan beradaptasi serta tetap memenuhi potokol kesehatan Covid-19. Sehingga Presiden Joko Widodo mengajak masyarakat berdamai dengan pandemi Covid-19, karena vaksinnya belum ditemukan sampai detik ini. 

Dengan demikian, masyarakat NTB siap memasuki era New Normal di tengah pandemi Covid-19. Dengan demikian, pemerintah melalui satgas penanganan Covid-19 telah merancang beberapa indikator yang dapat menentukan suatu daerah untuk menerapkan New Normal.

Gubernur NTB H. Zulkieflimansyah beberapa bulan lalu telah memberikan harapan baru, sekaligus sebagai syarat utama menjalani New normal, meminta masyarakat agar tetap menjalankan protokol kesehatan. Seperti menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan lainya. Jika beberapa syarat mendasar itu sudah bisa dilakukan, kata Gubernur Zul, tentu kita bisa laksanakan kenormalan baru tersebut.

Pada prinsipnya, New Normal belum bisa dijalankan di NTB apabila kita merujuk kepada syarat yang di tawarkan pemerintah pusat. Tapi karena ambisi masyarakat yang tak tertahankan ingin segera melihat dengan bebas situasi dan kondisi, bahkan keinginan untuk berkegiatan normal.

Lebih-lebih di sektor pariwisata. Seperti tiga gili yang ada di Lombok Utara. Tak terkecuali di Pantai Kuta Mandalika, Lombok Tengah yang merupakan salah satu objek wisata utama ketika perhelatan MOTO GP tahun 2021 mendatang.

Pada prinsipnya, masyarakat NTB sudah mulai menerapkan New Normal tersebut dengan beberapa indikator yang sebelumnya sudah ditawarkan Gubernur NTB dengan tetap menjalan protokol kesehatan di destinasi wisata, dengan tetap menggunakan SOP New normal, untuk sarana akomodasi hotel dan restaurant.

Selain itu, beberapa aturan terkait sarana akomodasi juga telah dilaksanakan. Seperti membatasi jumlah pengunjung, mengecek suhu tubuh pengunjung, menyediakan handsanytizer, kemudian memberikan masker gratis. 

Ini merupakan langkah paling tepat untuk membangkitkan pariwisata NTB dan mengembalikan kejayaanya setelah kurang lebih satu tahun mati suri di terjang Covid-19, yang membuat para pemangku kebijakan berpikir dan berbuat extra, menata kembali sesuatu yang sudah lesu menjadi sehat sediakala. Tak terkecuali membangkitkan perekonomian masyarakat, terutama di bidang pariwisata.

Dengan sudah di terapkan penormalan baru ini, langkah strategispun telah tersusun rapi untuk mengembalikan kejayaan pariwisata NTB yang selama ini tumbang karena Covid-19. Sebagai pelaku pariwisata, kami sangat berharap dukungan Kementerian Pariwisata (Kemenpar), melalui tim Tourism Crisis Center (TCC) dan BPPD NTB, agar bekerjasama melakukan  pembenahan, penataan, dan promosi dengan cara mengadakan event-event di beberapa destinasi wisata yang ada di NTB. Seperti Table Top yang mungkin bisa diikuti oleh agent tour and travel dan pengguna jasa lainya. Tujuannya, bahwa pariwisata di NTB betul-betul telah aman terkendali dari Covid-19 dan telah menerapkan New normal dengan menggunakan aturan-aturan yang telah di tentukan.

*Penulis adalah Dosen FKIP Universitas Qamarul Huda Badaruddin dan Pengamat Pariwisata Lombok Tengah