Analisa Pilkada Lombok Tengah (bag 5)

analisa pilkada
Penulis, Habibul Adnan

Pasangan calon bupati-wakil bupati nonpartai atau calon independen ini, tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Lolos verifikasi faktual sudah luar biasa. Memang, tidak mudah dinyatakan memenuhi syarat untuk maju di jalur perseorangan dalam pilkada.

PKPU mengamanahkan, bagi calon independen, syarat pencalonan harus memenuhi dukungan minimal 8,5 persen dari DPT terakhir (DPT pemilu 2019). Kemudian syarat dukungan tersebut tersebar di minimal 50 persen lebih kecamatan. Artinya Saswadi-Dahrun (SADAR) setidaknya wajib mengumpulkan 57.037 KTP. Syarat dukungan yang dibuktikan dengan KTP itu, minimal tersebar di enam atau tujuh kecamatan di Lombok Tengah (Loteng).

Dan Saswadi-Dahrun bisa mendapatkan dukungan sesuai yang dipersyaratkan PKPU. Bahkan lebih. Dari hasil verifikasi KPU, pasangan ini memenuhi 57.072 dukungan. Kemudian, dukungan tidak hanya didapatkan di 50 persen lebih kecamatan. Tapi di seluruh kecamatan (12 kecamatan).

Inilah alasan mengapa saya mengatakan, Saswadi-Dahrun tidak bisa dianggap remeh. Setidaknya, pasangan ini sudah punya basis suara di 12 kecamatan. Tinggal mengkonkretkan “suara KTP” itu sebagai suara riil di dalam TPS. Tinggal memastikan, pemilik KTP tidak berpindah dukungan ke calon lain di hari pencoblosan.

Jika suara 57.072 itu aman, tugas Saswadi-Dahrun lebih ringan. Pasangan ini bisa lebih fokus mencari tambahan suara. Iya, harus dicari lagi sebanyak-banyaknya. Sebab, dukungan 57.072 suara masih belum cukup untuk memenangi pilkada Loteng. Jika dapat dua kali lipat sekalipun, persentasenya masih di bawah 30 persen.

Saswadi berlatar belakang birokrat. Dia pejabat teras Pemkab Lombok Barat dan Provinsi NTB. Bahkan, pria kelahiran Penujak, Kecamatan Praya Barat ini, pernah merasakan empuknya kursi bupati meski hanya empat bulan. Yaitu pada tahun 2018. Ketika itu, Saswadi dipercaya gubernur sebagai Pjs Bupati Lombok Barat. Pengalaman birokrasi puluhan tahun plus Pjs bupati, membuat Saswadi begitu PD maju di pilkada Loteng.

Saswadi-Dahrun mendapatkan dukungan dari para tokoh dan tuan guru. Salah satunya HL Wiratmaja atau Mamiq Ngoh. Di samping sebagai tokoh berpengaruh, Mamiq Ngoh pernah menjadi bupati Loteng selama satu periode. Dengan dukungan yang terus mengalir, Saswadi-Dahrun sangat yakin mampu mengukir sejarah baru  di Loteng, yaitu menjadi bupati pertama dari jalur independen.

Munculnya calon perseorangan di pilkada Loteng bukan kali ini saja. Sudah beberapa kali. Tapi, mereka tidak pernah mendapatkan suara dominan. Dukungan yang diperoleh di bawah 10 persen. Mamiq Ngoh contohnya. Ketika Bupati Loteng periode 2004-2010 itu maju di jalur independen pada tahun 2015, perolehan suaranya hanya 3,94 persen atau 18 ribuan dukungan. Namun, Saswadi-Dahrun tidak ingin mengulang pengalaman pahit pendahulunya. (habis)

Wallahu’alam

Penulis: Habibul Adnan, Jurnalis Jawa Pos Radar Situbondo