Analisa Pilkada Lombok Tengah (bag 4)

analisa pilkada
Penulis, Habibul Adnan

Pasangan calon ini cukup kuat. Dia kuat karena incumbent. Didukung bupati pula. Kemudian, mendapat dukungan paling gemuk di perlemen. Partai dengan keterawakilan paling banyak di DPRD Lombok Tengah (Loteng) menjadi pengusung utamanya. Yaitu Gerindra dan Golkar (sama-sama 7 kursi). Berkoalisi dengan NasDem yang punya 3 kursi dan PDIP dengan 1 kursi. Sehingga total 18 kursi. Sangat gemuk. 

Paslon nomor 4

Indikator kekuatan paling dominan, didukung mayoritas warga NU Lombok Tengah (Loteng). Di belakangnya, ada banyak tokoh NU berpengaruh yang secara terang-terangan mendukung duet Lalu Pathul Bahri-Nursiah. Pathul merupakan Wakil Bupati saat ini. Sedangkan Nursiah Sekda Loteng.

Pathul-Nursiah punya jargon Maiq-Meres (enak). Jargon ini sudah sangat akrab di telinga masyarakat karena sudah digunakan sejak 10 tahun lalu. Yaitu ketika pencalonan pertama Suhaili (bupati saat ini). Karena itu, ketika menyebut Maiq-Meres, tidak lepas dari sosok bupati dua periode itu. 

Kembali ke dukungan NU. Selama beberapa kali pilkada Loteng, calon yang mendapatkan dukungan NU selalu terpilih menjadi bupati. Contoh paling dekat adalah Suhaili. Dua kali pencalonannya, NU menjadi amunisi utamanya. Begitu juga dengan pilkada 2005 silam. Pasangan Lalu Wiratmadja atau Miq Ngoh dan Lalu Suprayitno, kala itu menang berkat dukungan warga NU.

Lalu Pathul, selama menjadi wakil bupati, dikenal dekat dan perhatian terhadap NU. Ketika dibutuhkan, dia selalu ada untuk NU. Politisi Gerindra ini juga loyal terhadap pesantren dan santri. Tentang perhatiannya tersebut, diakui TGH. Ma’rif Makmun, ulama cukup berpengaruh di Loteng. Tuan Guru Ma’rif dalam beberapa kesempatan mengajak masyarakat memilih Pathul-Nursiah. Bagi Tuan Guru asal Desa Darek itu, memenangkan Maiq-Meres bukan sekedar menjadikan Pathul sebagai bupati, tapi bagian dari ikhtiar memperjuangkan NU. 

Pada pilkada 2015 lalu, dari 469.414 pengguna hak pilih, pasangan Suhaili-Lalu Pathul mendapatkan dukungan 46 persen. Ketika itu, ada lima paslon yang memperebutkan kursi empuk bupati-wakil bupati. Tapi, pilkada kali ini, suara NU sepertinya lebih dinamis. Ada di mana-mana. Sebenarnya, dari dulu memang begitu.

Pemilih kultur NU, melihat kepada ketokohan, bukan pada partai. Mereka yang dianggap punya perhatian terhadap NU dan tidak berjarak dengan warga NU, itulah yag akan dipilih. Selama ini, partai religius PKB-PPP yang merupakan partainya orang NU secara nasional, belum menunjukkan ke NU annya di Loteng. Saya tidak tahu apa faktornya. 

Apakah Maiq-Meres akan menang? Belum tentu. Sebab, mereka harus melawan kutukan mitos. Sejak pemilihan langsung, belum ada wakil mampu menjadi bupati si Loteng. Tapi itukan mitos! Bisa saja Pathul mencetak sejarah dan memecahkan mitos itu. (bersambung)

Wallahua’lam

Penulis: Habibul Adnan, Jurnalis Jawa Pos Radar Situbondo