Analisa Pilkada Lombok Tengah (bag 3)

analisa pilkada
Penulis, Habibul Adnan

Kolaborasi birokrat-tokoh agama. H. Masrun juga seorang pengusaha sukses di bidang perkayuan. Usahanya tersebut ia rintis sejak muda. Sedangkan TGH. Habib Ziadi Thohir merupakan Ulama muda. Pemimpin salah satu pesantren NW (Nahdatul Wathan) di Lombok Tengah ini masih berusia 34 tahun.

Kemunculan duet Masrun-Habib di pilkada Loteng cukup mengejutkan. Bagaimana tidak, keduanya baru ada komunikasi di detik-detik akhir. Masrun sebelumnya digadang-gadang berpasangan dengan tokoh muda NU bernama Lalu Aksar Anshori. Entah bagaimana ceritanya, romantisme keduanya putus di tengah jalan. Masrunpun menggandeng Habib. Paslon ini diusung PKS (6 kursi), Hanura (2 kursi), PAN (1 kursi), dan Berkarya (1 kursi).

Paslon nomor 3

Secara politik, keputusan berpasangan dengan Habib lebih menguntungkan Masrun. Sebab, Habib merupakan tokoh NW. Dengan demikian, Masrun-Habib dipastikan mendapat dukungan pemilih kultur NW. 

Dalam sejarah pilkada Loteng, calon yang didukung NW selalu mendulang suara cukup banyak. Di pilkada lima tahun lalu misalnya, pasangan Gede Sakti-Achmad Wirajaya memperoleh suara 121 ribu lebih atau berada di urutan kedua perolehan suara tertinggi. Gede Sakti merupakan cucu pendiri NW. Apakah itu artinya Masrun-Habib akan menjadi runer up? Belum tentu.

Bisa saja menjadi pemenang. Begini, lima tahun lalu berbeda dengan pilkada tahun ini. Masrun-Habib yang punya jargon “Lombok Tengah Mendunia”, diusung partai penguasa NTB. Yaitu PKS.

Gubernur NTB saat ini, Zulkieflimansyah adalah kader PKS. Di pemilihan Gubernur NTB 2018 lalu, Zulkieflimansyah yang berpasangan dengan Siti Rohmi, secara mengejutkan keluar sebagai pemenang. Rohmi merupakan kakak kandung Gubernur NTB periode sebelumnya, Tuan Guru Bajang (NTB). Ini membuktikan, betapa bahayanya duet PKS-NW.

Masrun-Habib juga berpeluang mendapatkan dukungan dari luar NW. Bahkan, tidak menutup kemungkinan dapat merebut simpati jam’iyah Nahdiyin (NU) Loteng. Masrun pernah masuk pengurus struktural PCNU Loteng. Pada tahun 2010 lalu, mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja ini, dipercaya menjadi bendehara PCNU Loteng.

Nama Masrun juga tidak asing di telinga masyarakat. Sejak mendapatkan amanah menjadi Kepala Dinas Tenaga Kerja, dia sering bersentuhan dengan pekerja migran Indonesia (PMI) atau TKI. Selama menjabat di OPD ini, kinerja Masrun cukup baik. Misalnya, dia sukses menorehkan namanya sebagai pengelola terbaik pelayanan penempatan PMI asal Loteng yang bekerja di luar negeri (bersambung)

Wallahua’lam

Penulis: Habibul Adnan, Jurnalis Jawa Pos Radar Situbondo