Analisa Pilkada Lombok Tengah (bag 1)

analisa pilkada
Penulis, Habibul Adnan

“PAS Menah Tandur”. Inilah jargon paslon  Hj. Lale Prayatni-H. Lalu Sumum. Kandidat yang diusung PKB dan PBB ini, keduanya berlatar belakang birokrat. Sileng, sapaan akrab Lale Prayatni, orang lama di Pemkab Lombok Barat. Jabatan terakhirnya, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan. Meski dinas di kabupaten tetangga, dia punya ikatan emosional cukup kuat di dengan Lombok Tengah (Loteng).

Paslon nomor 1

Sileng lahir di Desa Ubung, Kecamatan Jonggat. Dia cucu bupati pertama Loteng, Lalu Srinate Wiresaid. Faktor historis keluarganya bisa membawa keuntungan bagi paslon ini. Jika ini bisa dimaksimalkan, Sileng bisa jadi membahayakan bagi lawan-lawannya. Usul: Eksplor saja. Masyarakat perlu tahu sejarah keluarga anda.

Di Kecamatan Jonggat, hak pilihnya cukup besar. Sekitar 80 ribuan suara. Ini juga bisa menguntungkan PAS Menah Tandur. Jika mampu menguasai separo suara saja di Jonggat, 40 ribuan suara sudah aman. Pasangan ini, juga bisa mencuri suara di Praya Timur. Setidaknya di Desa Marong yang merpukan asal Lalu Sumum.

Dukungan kursi di parlemen juga jelas menjadi kekuatan tersendiri. PKB di DPRD Loteng mendapatkan enam kursi atau sekitar 19 ribu suara pemilih. PBB empat kursi atau sekitar 14 ribu suara. Tentu, kekuatan total 10 kursi itu menjadi modal berharga. Tinggal, bagaimana anggota fraksi PKB dan PBB bergerak, setidaknya ke konstituennya masing-masing.

Kaum emak-emak juga bisa digaet Sileng-Sumum. Tampil dengan tagline “Srikandi”, Lale Sileng bisa jadi representasi kaum hawa di kancah perpolitikan daerah. Iya, istri Sekda Provinsi NTB ini satu-satunya perempuan di antara lima pasangan calon.

Sumum, sang Cawabup. Dia mengawali karier sebagai pendidik. Beberapa kali menjadi kepala sekolah. Puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk pendidikan. Dan pada akhirnya, tahun 2017 ia dipercaya menjadi orang nomor satu di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Loteng.

Wajar, namanya cukup melekat di kalangan guru. Ada ribuan guru yang kenal baik dengannya. Sumum paham betul isu-isu pendidikan. Karena itu, pasangan PAS menawarkan konsep brilian terkait design pendidikan Loteng ke depan. Misalnya kesejahteraan guru honorer. Eits, sebentar dulu. Hitungan politik tidak sama dengan Matematika! (bersambung)

Wallahua’lam.

Habibul Adnan, Jurnalis Jawa Pos Radar Situbondo