Pasutri Asal Situbondo Rintis Usaha Akar Dewa Jati

Innani di antara kerajinan yang terbuat dari akar kayu jati

Identitasnews.com – Hasil kerajinan dari akar jati pasangan suami istri (pasutri) ini sudah tembus hingga ke luar negeri. Tapi, awal-awal merintis usaha, mereka harus jatuh bangun
Pasutri tersebut adalah Homaidy dan Innani. Kini, mereka memiliki puluhan karyawan. Keduanya juga sudah membuka autlet di sejumlah daerah di luar Jawa Timur. Seperti di Bali dan Jakarta.
Hasil kerajinannya bermacam-macam. Mulai dari kursi, karpet, serta perabotan rumah tangga lainnya. Semuanya berbahan kayu jati. Kebanyakan dari akar. Karena itu, Homaidy mememberikan nama “Dewa Akar Jati”.
Hasil kerajinannya sudah terkenal. Pasarnya tidak hanya dalam negeri, akan tetapi sudah tembus ke mancanegara. Selain Kanada, kerajinan Dewa Akar Jati juga sampai ke Slovenia, Inggris, Jepang, dan lain sebagainya. Untuk kawasan Asia Tenggara, pemesan terbanyak Malaysia dan Singapura.

Kerajinan Akar Kayu Jati Berupa Kursi dan Meja


Pasutri asal Kecamatan Kendit, Situbondo ini mulai merintis usahanya sejak tahun 1989 silam. Innani menerangkan, ketika itu, semua kerajinan dibuat secara manual. “Pakai tangan semua. Kalau sekarang sudah pakai mesin,” jelasnya.
Pelan tapi pasti, mulai berkembang. Perempuan 44 tahun ini mengatakan, usahanya maju berkat masukan dari masyarakat dan pelanggan. “Misalnya ada yang mengoreksi. Di situ kami mulai berbenah,” kata Innani.
Awal-awal merintis usaha, terasa cukup berat. Bahkan, sudah sering tertipu oleh pembeli. Barang yang diambil tidak dibayar. “Misalnya kejadian pada tahun 2001. Kami rugi sekitar Rp 14 juta,” ujarnya.
Innani menerangkan, ketika itu ada sesorang yang membawa barangnya sebanyak satu pikup ke Bali. Oleh orang tersebut, uangnya akan ditransfer setelah sampai di Bali. “Tapi ternyata tidak ada apa-apa. Sampai sekarang tidak dibayar,” jelasnya.
Innani dan suaminya down. Akan tetapi, mereka akhirnya bisa menerima. Malah, menjadi penyamangatnya untuk tetap menekuni usahanya. “Alhamdulillah, berkat kesabaran, akhirnya sampai sekarang bisa bertahan dan terus berkembang,” pungkasnya.
Homaidy menambahkan, meskipun usahanya sudah go internasional, dia merasa masih harus terus memperbaiki produknya. Karena itu, dia berusaha belajar, dan mencari referensi agar hasil kerajinan Dewa Akar Jati semakin berkualitas. “Pasti ingin lebih baik lagi,” ujarnya.
Sementara itu, Homaidy mengaku, sejak pandemi Covid-19, penghasilannya menurun. Banyak yang tidak bisa dikirim. Barang-barang yang dibeli pelanggan dari luar negeri macet sama sekali. “Tapi sekarang sudah mulai bisa kirim. Kemarin ada yang dibawa ke Kanada,” katanya.
Beruntung, ketika itu masih ada pesanan secara online. Kerajinan dari Dewa Akar Jati juga bisa dipesan di sejumlah aplikasi penjualan online. “Online ramai, kami sampai kewalahan. Kalau tidak ada online, pasti down. Artinya, masih bisa mengimbangi,” kata Homaidy.
Pada bulan Ramadan lalu, penghasilan dari penjualan online mencapai Rp 30 juta. Homaidy mengatakan, pendapatannya rata-rata Rp 50 juta per bulan. “Tapi tidak tentu. Tergantung pesanan. Kalau sedikit, penghasilannya juga sedikit,” pungkasnya.