Kontekstualisasi Konsep Khauf dan Raja’ dalam Berasmara

Hidayat
Ahmad Dirgahayu Hidayat

Hidup adalah perjuangan, dan berani hidup, itu artinya berani berjuang. Oleh karena itu siapa yang takut membuka mata untuk melihat ke depan dan beranjak untuk meniti titian kehidupan, maka saran terbaik untuk mereka adalah “mati”. Setidaknya itulah spirit dari bait-bait pesan seorang Pahlawan Nasional asal Situbondo, kiai As’ad Syamsul Arifin dalam buku kumpulan wasiatnya.

Tiada satupun makhluk di muka bumi ini yang terbebas dari sekian banyak jeratan tali ujian Tuhan. Baik yang muncul dari dirinya maupun dari orang lain dalam kehidupan sosial. Allah SWTberfirman dalam surah al-‘Ankabutayat 64:

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُون

Artinya: “Dan kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau saja mereka mengetahui”.

Melalui ayat di atas, Allah Ta’ala menegaskan dengan setegas-tegasnya bahwa kehidupan dunia ini tidak lebih hanyalah sebentuk permainan dan senda gurau. Sebagaimana layaknya sebuah permainan, tentu tidak akan pernah menarik kala sepi dari tantangan dan rintangan. Bahkan akan lebih menarik ketika rintangan yang ditempuhnya lebih sulit dan menantang nyali.

Dari banyak kalangan ahli tasir, di antaranya adalah Imam Nashiruddin Abu al-Khair Abdullah bin Umar bin Muhammad al-Baidhawi dalam bukunya Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil atau yang merakyat dikenal dengan Tafsir al-Baidhawi, menafsirkan ayat surah al-‘Ankabut di atas, bahwa kehidupan dunia tak lebih dari sebuah permainan atau mungkin sebuah teka-teki (puzzle)_sebagaimana yang kerap dimainkan oleh anak-anak kecil di masanya_yang mereka semua berkumpul di satu tempat, bermain dan bersuka ria, lalu sesaat kemudian bubar, pulang ke rumah masing-masing dalam kondisi letih-letah sebab senda gurau mereka tadi. Berikut redaksi dalam Tafsir al-Baidhawi;

{وَمَا هذه الحياة الدنيا} إشارة تحقير وكيف لا وهي لا تزن عند الله جناح بعوضة . {إِلاَّ لَهْوٌ وَلَعِبٌ} إلّا كما يلهى ويلعب به الصبيان يجتمعون عليه ويبتهجون به ساعة ثم يتفرقون متعبين. تفسير البيضاوي (4/ 475).

Maknanya, kalau kehidupan dunia ini dianalogikan oleh al-Baidhawi dengan sebuah permainan bahkan mungkin Puzzle anak-anak, maka kita dapat mengembangkannya dengan menarik analogi tersebut dalam skala yang lebih luas dan lebih real. Semisal dalam persoalan dunia asmara yang kerap kali menimpa sebagian besar kaum remaja kita sejak dahulu hingga sekarang. Dalam dunia asmara kita dewasa ini, terdapat sebuah istilah yang dikenal dengan “Galau dan Move On”. Galau itu sendiri merupakan satu keadaan di mana seseorang merasa kacau-balau tidak karuan, tentu dalam hal ini disebabkan oleh hubungan asmara yang tidak sehat, entah karena hubungan tidak direstui orang tua, pasangan bertingkah “gila”, atau yang paling menyakitkan mungkin ketika pasangan malah dijodohkan paksa orang tuanya.

Dalam kondisi seperti ini tentu seseorang sedang berada dalam lingkaran rasa khauf (pesimis). Lalu pertanyaannya, ketika dalam keadaan galau (pesimis), apakah kemudian ia akan terus menuruti serta membiarkan rasa galau itu menyelimuti dirinya? Jelas jawabannya “Tidak!”. Melainkan dia harus menyeimbangkan kondisi galau itu dengan satu keadaan yang dikenal dengan Move On (optimis), di mana seseorang sedang berpengharapan serba baik dalam menghadapi masalah-masalahnya. Semisal dengan mengubah pola pikir bahwa sebenarnya ia tidak sedang ditinggal oleh kekasihnya, melainkan Tuhan sang maha pengasih sedang mempersiapkan ia dengan pasangan yang jauh lebih baik dari yang meninggalkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 216:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ    

Artinya: “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu, Allah lah yang mengetahui, sedang kamu tidak mengetahuinya”

Dalam hal ini, seseorang harus kokoh berada dalam keseimbangan antara dua kondisi yaitu khauf (pesimis) dan raja’ (optimis). Sebab khauf yang berlebihan akan membuat ia mudah terjerumus dalam putus asa yang dilarang itu, sedangkan raja’ yang “melangit” atau terlalu melambung tinggi, sangat berpotensi membuat seseorang durhaka kepada penciptanya. Karena itulah keduanya harus seimbang.

Dalam sebuah pepatah Arab yang dikutip kiai Afifuddin Muhajir dalam bukunya Membangun Nalar Islam Moderat, dari sebuah kitab Bariqah Mahmudiyah fi Syarh Thariqah Muhammadiyah karya Abu Sa’id al-Khadimiy, disebutkan sebagai berikut;

الرجاء والخوف كجناحي الطير فإن اعتدلا طار وإلا فإما أن يختلّ طيرانه أو لا يطير أصلا فصار كالمذبوح

Artinya: “Raja’ dan Khauf  ibarat dua sayap burung, jika kedua sayap itu mengepak seirama, niscara burung akan terbang, namun jika tidak demikian, maka bisa saja burung itu terbang namun tidak sempurna atau justru tidak dapat terbang sama sekali layaknya sudah di sembelih”. Jadi kesimpulannya, bagi sekalian remaja, seharusnya tidak pernah putus harap untuk mendapatkan karunia Tuhan yang jauh lebih indah dari sekedar apa yang dia anggap indah. Putus cinta atau asmara yang semrawut bukan lah akhir segalanya. Melainkan hanya langkah awal untuk menemukan cinta yang lebih indah. Sebab Tuhan pasti menyediakan anugerah pengganti dari anugerah yang telah dicabut-Nya. Inilah yang disebut dengan keseimbangan antara khauf dan raja’ atau antara galau dan move on dalam konteks asmara. Dan inilah yang membuat siapa saja bisa terbang bebas bagai seekor burung dengan keseimbangan sayapnya. Wallahu A’lam.