Anak Satpam Pesantren Raih Gelar Doktor

Khumaidi
Ahmad Khumaidi

Perjalanan pendidikannya kerap melewati jalan terjal. Bahkan, tidak jarang harus jatuh bangun. Akan tetapi, berkat keinginan kuat, rintangan dan hambatan itu berhasil dilaluinya.

          Iya, Achmad Khumaidi harus pontang-panting selama menempuh pendidikannya hingga jenjang S3. Seperti ketika melanjutkan pendidikan S1 di Malang. Dia rela nyambi sebagai pembantu rumah tangga. Pria 30 tahun itu menjadi pembantu di rumah salah satu pemilik kost.

Khumaidi menceritakan, ketika itu, ada seorang pemilik kost mencari pembantu. Tahu ada lowongan pekerjaan, pria kelahiran 22 April 1990 itu menawarkan diri. “Tanpa pikir panjang, saya langsung menawarkan diri,” katanya.

Khumidi menawarkan diri menjadi pembantu rumah tangga dengan mengajukan satu syarat. Yaitu diizinkan ke kampus jika ada jam kuliah. “Alhamdulillah, tuan rumah memenuhi syarat yang diajukan. Namun, saya tidak pernah meninggalkan rumah jika pekerjaan belum selesai,” ujarnya.

Pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga, berbelanja kebutuhan dapur, mencuci piring, menyapu dan ngepel rumah, serta menyirami tanaman. Khumaidi juga harus antar-jemput anak sang bos ke sekolah. “Aktivitas ini saya jalani setiap hari,” katanya.

Ketika ke pasar itu, dia lewat di Universitas Brawijaya (UB), perguruan tinggi impiannya. Saat itu, dia selalu berdoa agar bisa melanjutkan program pasca sarjana di universitas tersebut. Dan benar, pada tahun 2013, dia menjadi mahasiwa di UB.

“Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah tempat saya mengabdi memberikan kesempatan beasiswa kuliah S2. Saya mendaftar di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FKIP),” kata lulusan Akademi Perikanan PP Salafiyah, Syafiyah Sukrejo itu.

Singkat cerita, tahun 2015 dia wisuda S2. Pada tahun 2017, Khumaidi mencoba daftar di program Doktor FPIK UB melalui Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPP-DN) Kemenristekdikti. Di tingkat universitas, dia dinyatakan lulus.

Akan tetapi, Khumidi harus membayar uang kuliah tunggal (UKT) sebesar Rp 10 juta lebih. Keuangan itu harus dibayarkannya karena SK penetapan penerima beasiswa dari Kemenristekdikti  tidak kunjung turun. “Saya pinjam uang kemana-mana, baru bisa bayar UKT” katanya.

Setelah sebulan menjalani kuliah, dia sempat mau berhenti. Sebab, tidak ada namanya di SK penetapan Beasiswa BPP-DN Kemenristekdikti. “Saya mengabari istri dan orang tua, bahwa saya tidak mendapatkan beasiswa,” katanya.

Dr. Ahmad Khumaidi bersama istrinya

Tetapi, istri dan orang tuanya malah meminta tetap melanjutkan kuliah. Sang istri bersedia menjual barang-barang di rumahnya. “Jangan berhenti. Tanah se petak yang kita miliki, kita jual untuk biaya kuliah,” kata Khumidi menirukan ucapan orang tuanya, kala itu.

Inilah yang menyamangatinya. Berbagai usaha dilakukan pria asal Sukorejo, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih itu agar kuliah S3 bisa diselesaikannya. Dan, pada tanggal 19 Juni 2020, dia dinyatakan lulus disertasi. Kini, tinggal menunggu yudisium.

Orang tua Khumaidi menjadi satpam di PP Salafiyah Syaf’iyah, Sukorejo. Di samping itu, bapaknya juga bekerja sebagai tukang becak. Pendidikan sekolah dasar hingga diploma tiga diselesaiakan di pesantren yang diasuh KHR. Azaim Ibrahimy itu. Dia juga menjadi dosen di pesantren tersebut. Khumiadi sangat bangga mampu menyelesaikan S3. Kata dia, kesuksesan itu didapatnya berkat dukungan orang tua dan istri. “Do’a ibu, bapak, istri, dan para guru menjadi jimat saya dalam menyelesaikan studi ini,” pungkasnya.