Membangun Optimisme Perekonomian

Kontraksi Ekonomi
Prayudho BJ, ASN pada BPS Kabupaten Situbondo

Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2020 baru saja dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Laju pertumbuhan  ekonomi, seperti yang diperkirakan banyak pihak akan mengalami kontraksi. Kontraksi tersebut merupakan yang terdalam pasca krisis ekonomi tahun 1998, sebesar minus 5,32 persen. Berikutnya,  teropong ekonomi langsung terarah pada situasi triwulan III 2020 yang sedang berjalan saat ini. Ada pandangan skeptis namun tidak sedikit yang memandang positif. 
Adalah wajar apabila pandangan segera terarah pada perubahan ekonomi kedepan, karena beberapa lembaga dunia seperti IMF  memperkirakan Indonesia akan tumbuh negatif atau terkontraksi di tahun 2020 ini. Lembaga lain seperti Word Bank memiliki pandangan yang lebih baik dari sisi arah ekonomi Indonesia kedepan, bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh stagnan alias nol. Arah dan pandangan ekonomi tersebut  sangat ditentukan dengan apa yang terjadi pada triwulanan III 2020 ini.
Sri Mulyani akhir Juli lalu menyatakan, bahkan untuk keadaan ekonomi tahun 2021 kedepan masih diliputi ketidakpastian. Ketidakpastian menyangkut kecepatan penanganan covid-19 secara global serta bagaimana pemulihan ekonomi yang dilakukan. Pemulihan ekonomi sangat tergantung  pada  penanganan yang efektif seiring dengan relaksasi pembatasan fisik di akhir triwulan II 2020. Aktifitas ekonomi tersebut tercermin dalam rilis Produk Domestik Bruto (PDB) kemarin.
Aktifitas ekonomi pada kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan  menjadi penyelamat perekonomian Indonesia untuk tidak terpuruk lebih dalam. Kategori ini dapat tumbuh positif karena ditopang pergeseran panen raya ke periode April dan Mei. Kategori ini memiliki peran bagi ekonomi Indonesia sebesar 15,46 persen pada triwulan II 2020, menggeser kategori Perdagangan yang menyusut dihantam badai Pandemi Covid-19. Sedangkan kategori Informasi dan Komunikasi (Infokom) tumbuh sangat signifikan sebesar 10,88 persen. Sementara beberapa kategori lainnya tumbuh positif namun melambat.
Di lain kategori, beberapa mengalami kontraksi double digit. Kategori terparah adalah Transportasi dan pergudangan yang mengalami kontraksi hingga minus 30 persen. Angkutan udara merupakan subkategori yang paling dalam penurunannya hingga minus 80 persen lebih. Larangan bepergian terutama masa mudik lebaran, himbau bekerja di rumah serta penurunan aktifitas cargo adalah penyebab hal diatas.
Segala pembatasan fisik yang terjadi dari sisi supply diatas, berdampak langsung pada sisi demandnya. Penurunan daya beli masyarakat tercermin dari komponen konsumsi rumah tangga yang mengalami kontraksi minus 5 persen lebih. Kontraksi terdalam pada subkomponen Restoran dan Hotel (minus 16,53 persen) dan subkomponen transportasi dan Komunikasi (minus 15,33 persen). Sementara konsumsi rumah tangga pada  subkomponen Perumahan dan Perlengkapan serta subkomponen kesehatan dan pendidikan tumbuh melambat. Upaya pemerintah untuk menahan laju perlemahan konsumsi rumah tangga terutama melalui berbagai skema bantuan sosial dan stimulus ekonomi pada dasarnya telah dilakukan. Namun tekanan perlemahan daya beli lebih kuat dibanding stimulus dan bantuan sosial yang diberikan.
Kebijakan ekonomi pemerintah yang terekam dalam rangka penanganan dampak Covid-19 ini setidaknya dapat terbagi dalam tiga hal. Pertama adalah stimulus ekonomi terutama pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) berupa restrukturisasi hutang pada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan beberapa stimulus lainnya. UMKM merupakan skala usaha terdampak ekonomi paling besar dari skema penanganan Covid-19 melalui pembatasan fisik ini. Kedua adalah bantuan sosial untuk perlindungan bagi masyarakat miskin terdampak. Food insecurity akibat berkurangnya pendapatan diharapkan dapat diminimalkan. Usaha ini nampaknya berhasil menahan laju perlemahan konsumsi rumah tangga  jika dilihat kontraksi subkomponen makanan minuman selain restoran yang “hanya” minus 0,71 persen. Ketiga adalah upaya pembelian produk UMKM oleh pemerintah untuk memicu gairah investasi dan meningkatkan kembali aktifitas ekonomi masyarakat.
Aktifitas ekonomi masyarakat, dapat didekati dengan melihat bagaimana pergerakan atau mobilitas masyarakatnya. Asumsinya semakin tinggi aktifitas masyarakat maka semakin besar atau banyak aktifitas ekonomi yang dilakukan. Deteksi mobilitas penduduk dapat dilakukan melalui community mobility Report google atau facebook movement range maps. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. 
Data mobilitas penduduk tersebut terbukti seirama dengan pergerakan ekonomi yang dirilis BPS. Sehingga untuk melihat arah dan pandangan ekonomi real time, deteksi mobilitas layak digunakan sebagai proxy aktifitas ekonomi. Data community mobility Report menunjukan bahwa pergerakan penduduk ke obyek obyek yang diamati meningkat di bulan Juli. Walau pergerakan tersebut masih dibawah baseline perhitungan normal pada Januari. Pergerakan yang mencolok adalah pada obyek amatan Toko dan Apotek yang pada Juli yang memiliki rata-rata minus 2,65 persen dibandingkan yang terdalam pada bulan April (minus 21,07 persen). Namun,pergerakan penduduk pada tempat transportasi masih belum sepenuhnya normal walau mengalami peningkatan dari bulan bulan sebelumnya. Rata – rata pergerakan di bulan Juli masih minus 35,32 persen. Perkembangan data mobilitas tersebut dapat membangun optimisme perbaikan ekonomi pada triwulan ke III 2020 yang akan datang. Optimisme ini diperlukan sebagai akselerator dan menambah daya ungkit aktifitas ekonomi bagi masyarakat. Optimisme ini merupakan doping lain untuk bisa melewati barrier dengan digitalisasi dan memacu kreatifitas pelaku usaha agar adaptif dengan situasi Covid-19. 
Relaksasi pembatasan fisik diharapkan meningkatkan aktifitas ekonomi penduduk. Namun relaksasi ditengah meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia adalah tantangan yang harus dijawab dengan kedisiplinan mengikuti protokol kesehatan. Sebab jika tidak, ketidakpastian ekonomi dan bayangan resesi ada di pelupuk mata.