Jika Saya Menjadi Kepala Daerah Terpilih

pilkada serentak

Usai sudah hiruk-pikuk pilkada serentak. Pikiran terasa plong. Tahapan pilkada memang belum habis,masih ada pelantikan. Tetapi beberapa lembaga survey kredibel berdasarkan qiuck count yang dikeluarkan, sudah menahbiskan, sayalah pemenangnya. Pengambilan sumpah jabatan hanya persoalan waktu saja. Kalau sudah waktunya, saya pasti akan dilantik.
Kini, izinkan saya menenangkan pikiran sejenak. Toh, setelah dilantik, saya akan mencurahkan seluruh pikiran dan tenaga saya untuk mencapai kehidupan sejahtera, yang berkeadilan-seperti yang saya janjikan saat kampanye.
Saya ingin menyampaikan, terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan. Doakan saya, semoga mampu menjalankan tugas berat ini. Sungguh, tidak pernah terbersit sedikitpun dalam pikiran untuk menghianti kalian.
Bagi saya, kemenangan ini bukan milik kelompok tertentu.
Bukan kemenangan parpol, apalagi tim sukses. Ini adalah kemengan kita semua, kemenangan rakyat. Karena itu, saya tegaskan, mulai saat ini, tidak ada lagi paslon nomor urut 1,2,3, dan seterusnya. Perbedaan pilihan kemarin kita jadikan bagian dari ikhtiar untuk mencari pemimpin yang terbaik di antara yang baik.
Saya berjanji, semua program yang sudah saya sampaikan, akan saya tunaikan. Pemerintahan lima tahun ke depan, tentu harus lebik baik. Tetapi, terus terang, tugas berat ini jangan dibebankan kepada kami semata. Saya butuh kritik, masukan konstruktif. Tegur saya kalau salah.
Kalian semua sudah menjadi rakyat di daerah yang saya pimpin, kalian berhak menuntut janji saya. Siapapun. Saya tidak akan pernah melihat, Anda dukung siapa. Saya pastikan, akan mencerminkan pemerintahan yang baik untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Sekali lagi, saya merasa bahagia saat ini. Bukan hanya karena kemenangan sudah direngkuh, tetapi karena gawe besar negara ini sudah hampir selesai untuk tahun ini. Apa yang saya rasakan, saya yakin dirasakan oleh hampir seluruh warga negara Indonesia. Masyarakat di 13 provinsi, 39 kota dan 115 kabupaten yang menyelenggarakan pilkada serentak akan merasakan demikian.
Lelah, iya. Mulai memasuki masa pendaftaran paslon sejak tanggal 08 januari lalu, pikiran terasa begitu terkuras. Sebelum itu, harus ada deal-deal dengan kelompok tertentu, parpol pengusung. Saya tidak mungkin mendaftar jika belum ada kata sepakat. Itu tidak bisa dipungkiri.
Masa paling krusial adalah masa kampanye. Sekitar lima-enam bulan dari masa kampanye, sejak tanggal 15 Februari sampai memasuki masa tenang, semuanya harus tercurahkan. Saya harus berusaha lebih keras lagi untuk memantapkan hati pemilih. Saya harus blusukan kemana-mana, menyampaikan janji dimana-mana, berbagi dan peduli ke setiap pemilik suara.
Tidak hanya pikiran, dan tenaga. Tetapi kekuatan finansiala yang saya miliki, saya kerahkan. Bahkan jauh sebelum itu. Tetapi, bukan itu yang ingin saya sampaikan. Karena masalah tersebut, kalian sudah tahu semua, berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh paslon. Mustahil, saya berani maju dalam pilkada serentak jika tidak memiliki uang. Itulah sistem demokrasi kita. Maklum.
Wa ba’du, doakan saya, semoga menjadi pemimpin yang sesuai harapan. Doakan, semoga tidak pernah berpikir untuk mengembalikan modal materi yang sudah saya keluarkan selama masa pencalonan. Tapi jujur saja, saya tidak mau jadi pemimpin miskin. Saya mau jadi pemimpin pemurah yang selalu memberikan senyum untuk masyarakat.

Habibul Adnan, Wartawan Jawa Pos Radar Situbondo