Gempa Pulau Lombok dan (bukan) Kemaksiatan?

gempa lombok

Warga lombok sedang berduka. Gempa dengan goncangan cukup besar terjadi dalam medio yang tidak terlalu jauh. Pada Minggu pagi, 29 Juli lalu, 6,4 SR. Sepekan kemudian, lagi-lagi pada Hari Minggu, 05 Agustus kemarin, guncangannya lebih besar, 7,0 SR. Itu belum termasuk gempa susulan yang terjadi berulang kali.
Rumah banyak yang rusak, bangunan fasilitas umum roboh. Belum lagi korban meninggal dunia maupun korban luka-luka. Perempuan dan anak-anak kecil menangis. Tentu saja, juga kerugian materi yang tidak sedikit.
Bisa dibayangkan, bagaimana duka kami di Lombok, mendapatkan cobaan ini. Pulau kecil dihadapkan dengan gempa 7,0 SR. Luas wilayah Pulau Lombok hanya 4.725 kilometer persegi. Lebih luas Kabupaten Banyuwangi yang mencapai 5.782 kilometer persegi.
Bisa diperkirakan, jarak antara kabupaten yang satu dengan yang lain. Jarak tempuh dari Lombok Tengah ke Lombok Timur sekitar satu jam. Lombok Barat menuju Lombok Utara paling satu jam setengah. Berdekatan semua. Tidak ada yang sampai memakan waktu perjalanan 4-5 jam, seperti perjalanan Situbondo-Surabaya misalnya. Jadi wajar, seluruh desa di lombok merasakan dahsyatnya getaran gempa pada waktu yang bersamaan. Satu kata yang pas, ikut berbela sungkawa.
Sayangnya, dari kepedihan, penderitaan, kecemasan, dan trauma yang kami rasakan, banyak berkomentar yang tidak mencerminkan rasa empati. Bahkan cenderung memojokkan dan menyalahkan. Misalnya, ada yang mengait-ngaitkan dengan tingkat kemaksiatan di Pulau Seribu Masjid itu. Yang lebih aneh, ada pihak yang menghubungkan dengan dukungan Gubernur TGB Zainul Majdi kepada Presiden Jokowi. Bencana kok dipolitisir.
Memang, sebagai manusia biasa, sudah pasti punya salah, pernah khilaf. Tentu, bergelimang dosa. Sudah sering bermaksiat. Kami tidak menafikan itu, apalagi mau membela diri atau sok suci. Sebagai insan beragama, tentu kita juga meyakini, semua kejadian atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tetapi, tidak etis di tengah penderitaan kami ini, sampai dikaitkan dengan tingkat kejahatan, maupun banyaknya dosa yang terjadi di Lombok. Apalagi sampai mendekte, bahwa kami berlumur dosa, bahwa daerah kecil kami kemaksiatan merajalela, dan seterusnya.
Getaran bumi akibat pergeseran atau pergerakan lempengan bumi. Hanya itu alasan logis yang menyebabkan gempa Lombok terjadi. Ini lebih ilmiah. Lebih bijak daripada menghubungkan dengan dosa yang tidak bisa dijelaskan indikatornya. Apalagi dikaitkan dengan politik.
Lantas, benarkah di lombok saat ini sedang banyak maksiat?
Yang saya tahu, penduduk lombok sangat religius, menghargai perbedaan. Tidak pernah terjadi konflik antar agama yang memicu perpecahan. Di setiap dusun ada masjid. Bahkan, dijuluki Pulau Seribu Masjid. Meski bukan jaminan, ini mengindikasikan, warga lombok memiliki ketaatan dalam beribadah.
Masalah bisnis seks, tidak ada lokalisasi prostitusi yang besar. Saya tidak berani mengatakan tidak ada. Tetapi melihat geografisnya yang mayoritas pedesaan, tempat-tempat prostitusi jelas lebih glamor di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Party-party malam jelas lebih menggoda di Pulau Dewata, Bali. Lebih menggiurkan di Ibu Kota Jakarta.
Ibu Kota propinsinya kecil. Jika boleh saya membandingkan, Kota Mataram sebagai pusat kotanya, hampir sama dengan pusat kota Kabupaten Jember. Jauh benda jika dibandingkan dengan Denpasar, Malang, dan Surabaya.
Hanya masalah keamanan sedikit ada persoalan. Dan ini sudah terjadi sejak puluhan tahun. Lombok kurang aman. Semua warga Lombok mengiyakan ini. Ketika masih kecil, saya sendiri merasakan kecemasan setiap malam.
Di kampung saya, ketika musim kemarau tiba, marak pencurian hewan ternak. Seperti kambing, kerbau, dan sapi. Ayam dan bebek juga menjadi incaran maling yang bergerilya di malam hari. Ini masih terjadi sampai sekarang. Mereka yang punya hewan ternak, jangan pernah berharap tidur malam. Harus dijaga super ketat biar tidak dibawa kabur si pencuri.
Selain hewan ternak, kendaraan sepeda motor juga menjadi incaran. Karena itu, jangan mencoba keluar malam sendirian menggunakan sepeda motor di Lombok. Kalau tidak ada persiapan khusus di jalan, anda bisa dihadang kawanan rampok di tengah jalan. 
Contoh lain, coba buktikan menyeberang sendirian jalur laut via Pelabuhan Lembar. Jika masuk ke areal pelabuhan tanpa menggunakan sepeda motor atau membawa mobil, anda pasti menjadi sasaran todong preman di sana. Sopir-sopir truk maupun bus tahu betul masalah ini. Mereka akan ciut berhadapan dengan preman Pelabuhan Lembar. Ini tidak ditemukan di Pelabuhan Gili Manuk maupun Padang Bai, Bali.
Masalah keamanan, memang mencekam di lombok. Sampai saat ini, tidak ada satupun kepala daerah yang berani menggaransikan dirinya untuk keamanan. Saya tidak pernah mendengarkan janji-janji kampanye yang menyatakan, siap menjamin keamanan di tengah-tengah masyarakat.
Selain keamanan, saya belum menemukan tindak kejahatan yang lain. Ada mungkin, tetapi tidak segawat masalah yang satu ini. Ibarat kemacetan di Jakarta, masalah keamanan penyakit akut di tempat kami, yang membutuhkan penanganan serius.
Baik, jika gempa yang menimpa daerah kami dihubungkan dengan perilaku manusianya, jawabannya: di sana sering terjadi pencurian,  perampokan, begal kendaraan. Tetapi berpikirlah positif, bahwa itu murni musibah. Apa alasan tuhan menurunkan musibah di Lombok?, Wallahu A’lam.

Habibul Adnan, warga Lombok, NTB
Sekaligus wartawan Jawa Pos Radar Situbondo